Home / Wisata Cirebon / Vihara Dewi Welas Asih, Warisan Budaya Tionghoa di Cirebon

Vihara Dewi Welas Asih, Warisan Budaya Tionghoa di Cirebon

Cirebon memiliki ragam warisan budaya, selain memiliki kultur budaya islam, Cirebon juga memiliki warisan budaya Tionghoa, salah satunya adalah Vihara Dewi Welas Asih. Vihara yang beralamat di Jl. Kantor No.2 Cirebon ini hingga saat ini masih digunakan sebagai tempat peribadatan bagi warga Tionghoa. Vihara ini diperkirakan berdiri pada tahun 1595, sehingga bangunan seluas sekitar 2.300 m2 ini masuk dalam cagar budaya kota Cirebon.

Vihara-Dewi-Welas-Asih-Cirebon
Menurut cerita, semula nama kelenteng Dewi Welas Asih adalah Tiau Kak Sie. “Sie” artinya rumah orang beribadat (tempat bertapa). “Tio” berarti air pasang (air naik), dan “kak” berarti bangun dari tidur atau membangunkan atau membawa kepada akal yang benar. Dengan demikian, Kelenteng Tiao Kak Sie mempunyai dua arti. Pertama, kelenteng merupakan tempat yang dibangunkan oleh air pasang. Kedua, kelenteng merupakan tempat akal bertambah. Kelenteng dengan bangunan utama seluas 1.600 m2 ini menghadap ke selatan, berdiri di lahan seluas 1.857 m2, yang terbagi menjadi halaman pertama, kedua, bangunan utama dan bangunan sayap. Bagian depan halaman pertama dibatasi dengan pagar dan gapura berbentuk bentar, sedangkan pagar sebelah barat dan timur dari tembok.

Selanjutnya menuju halaman kedua dimana terdapat bangunan Pat Kwa Ceng (tempat peristirhatan), tempat peribadatan agama Buddha yang disebut Cetya Dharma Rakhita terdapat dua tempat pembakaran kertas dan dua singa di halaman depan. Bangunan utama terdiri atas serambi dan ruang utama. Ruang utama mempunyai ruang bagian depan, tengah dan ruang suci utama. Dinding sebelah kiri dan kanan pada ruang utama yang berlantai keramik warna merah bata ini dihiasi dengan gambar yang menceritakan bakti seorang anak kepada orang tua, pengadilan, dan penyiksaan terhadap orang-orang berdosa. Masing-masing dinding ruang bagian depan ini juga ditempel prasasti yang menyebutkan nama penyumbang dan jumlahnya, serta tahun pemugaran. Tiang pendukung atap terdiri atas empat buah, berbentuk segi empat, berwarna merah dan ditempel papan bertuliskan huruf Cina. Plafon terbuat dari kayu, sedangkan atapnya dari genteng berbentuk pelana, dihiasi dengan bunga, burung dan daun-daunan.

Pada ruang utama bagian depan terdapat altar Dewi Tie Kong, tempat abu, tempat lilin dan tergantung dua lonceng dan satu bedug. Pada ruangan bagian tengah terdapat altar untuk Dewa Hok Tek Ceng Sing (dewa bumi ), altar untuk Dewa Seng Hong Yah (Dewa Akhirat/Hukum), tempat abu, dua pembakaran kertas dan dua gentong abu. Ruang suci utama memiliki enam tiang yaitu dua tiang bulat warna merah bergambar naga dan empat tiang bulat merah polos. Dewa-dewa yang dipuja diletakan di dalam ruangan terbuat dari kayu dan terletak di atas pondasi. Dewa utama adalah Kwam Im Pou Sat dengan pengiringnya, Dewa Thian Siang Seng Bo (dewa laut/ Pelayaran) berserta pengiringnya dan Dewa Kwam Te Kun (dewa perang). Di depan masing-masing dewa terdapat meja altar dan di atasnya terdapat tempat abu dan lilin.

Pada bangunan sayap sebelah timur terdapat altar Dewa Lak Kwam Yah (dewa dagang) , altar dewa Couw Su Kong (dewa dapur), altar dewa Hian Thian Siang Tie dan pengiringnya, Dewa Sam ong Hu dan Kong Tik Coen Ong, gudang, dua ruang kosong dan aula yang dipergunakan untuk ibadat agama Buddha Mahayana. Di depan gudang terdapat jangkar yang diduga dibawa oleh orang tiongkok yang dating dengan naik kapal. Bangunan sayap belakang terdiri atas tempat air untuk bersuci, gudang, ruang perpustakaan, altar Hian Thian Siang Tie (Dewa langit), altar Tjin Fu Su (Kumpulan dewa-dewa) dan kantor sekretariat.

Sementara bangunan sayap sebelah barat merupakan ruangan untuk belajar kitab agama Buddha. Di bangunan sayap ini memiliki pintu di depan (selatan) yang merupakan pintu samping di sebelah barat bangunan utama. Khusus untuk bangunan sayap belakang, altar Hian Thian Siang Tie (dewa langit) mempunyai atap tersendiri, berbentuk pelana, penutup atap dari genting. Ujung bubungan atap berbentuk lengkung ke atas.

Kelenteng atau vihara Dewi Welas Asih (Tio Kok Sie) menurut ceritanya adalah tempat untuk orang-orang yang belajar ilmu. Prasasti yang berada di ruang utama menyebutkan bahwa Taan Kok Liong, Khang Li, dan Liem Tsiok Tiong pada tahun 1658 M memberi sumbangan. Disebutkan juga bahwa Khang Li adalah Maharaja Tiong Hwa yang memerintah di wilayah Tiongkok pada masa Lodewijk XIV. Prasasti tersebut juga menyebutkan tahun pemugaran dibagian ruang utama yaitu tahun 1791, 1829 dan 1889, tetapi tanpa merubah bentuk aslinya. Sekarang kelenteng ini dikelola oleh Yayasan Tunas Dharma.

About rentalmobilcirebon.com

Check Also

Mengenal Lukisan Kaca Cirebon dan Sejarahnya

Konon sejak abad ke 17 Masehi, Lukisan Kaca telah dikenal di Cirebon, bersamaan dengan berkembanganya ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *